|
Alangkah piciknya pemikiran mereka yang menganggap bahwa Hawa-lah yang menyebabkan keruntuhan iman Adam. Hawa-lah penggoda, dan sumber malapetaka yang menyebabkan diusirnya Adam (dan Hawa) dari surga. Pemikiran yang kemudian mendasari pemikiran-pemikiran mengenai subordinitas perempuan terhadap lelaki. Yang kemudian memicu terjadinya berbagai tindakan kekerasan terhadap perempuan, dan selalu sebagai pembenaran bahwa lelaki berada di jalur yang benar, dan perempuan selalu salah karena ketidakrasionalan mereka (?) dan kerawanan mereka untuk digoda oleh setan (memangnya laki-laki gak bisa digoda setan? buktinya pelaku kriminal terbanyak adalah laki-laki).
Al-Qur’an telah membebaskan manusia dari pemikiran yang menimpakan kesalahan kepada Hawa dengan menekankan bahwa yang terlibat dalam dosa yang menyebabkan mereka terusir adalah mereka sendiri, karena mereka berdua tergoda oleh setan. Kedua-duanya. Adam dan Hawa. Bacalah Allah berfirman:
"Lalu keduanya digelincirkan oleh syetan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula...." (Al Baqarah: 36)
Bukan semata-mata Hawwa yang memakan buah pohon itu, bukan dia yang memulai, tetapi kesalahan itu dari Adam dan Hawwa secara sama-sama, sebagaimana penyesalan dan taubat itu dilakukan oleh keduanya:
Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, maka pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al A'raf:23)
Bahkan di dalam ayat lain, kesalahan itu disandarkan kepada Adam saja:
"Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat." (Thaha: 115)
"Kemudian syetan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dengan berkata, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa." (Thaha: 120)
"Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia." (Thaha: 121)
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." (Thaha: 122)
Ini semua membuktikan bahwa Adamlah yang berbuat maksiat, sedangkan isterinya sekedar mengikut. Akan tetapi bagaimanapun keadaannya, maka kesalahan Adam Hawa hanya mereka yang menanggung, sedangkan anak turunnya terlepas dari perbuatan itu dan dari dosanya. Karena dosa seseorang tidak bisa ditimpakan kepada orang lain. Allah SWT berfirman:
"Itu adalah ummat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." (Al Baqarah1:134,141)
jadi bagaimana? Masih menyalahkan Hawa?
Tidak ada alasan untuk menganggap lelaki lebih baik daripada perempuan. Begitu juga sebaliknya. Kenyataan memang tidak pernah mengubah, aku mengubahnya, kamu mengubahnya, kita mengubahnya.
|